Angin laut yang terus berbisik di Teluk Bidara ini adalah bicara tentang kehidupanku. Di sinilah sewaktu kecil, aku lelah bermain-main mengejar ombak dan anak-anak ketam yang sedang berlarian di pasir pantai. Di sini jugalah, aku akan terus berbicara tanpa jemu tentang laut, ikan, sotong, udang, si camar, terumbu karang, ombak badai, gelombang laut, sang helang berdada merah dan tentang segunung harapan di hatiku. Di pantai Teluk Bidara inilah angin dari Laut China Selatan akan terus berbisik tanpa henti. - Upenyu

Sunday, May 17, 2009

Sara (untuk kau yang terluka)


Dik,
Kita sebenarnya belum bermula
cuma berlari-lari di bibir pantai
kaki kita hanya basah oleh buih-buih ombak
laut di hadapan luas
menanti dengan gelora dan badai
pulau itu bukan fatamorgana
itulah mimpi yang kita kongsi
bersama perahu dan pendayung di tangan


Dik,
Ku lihat telapak kakimu tersayat
merah oleh gigitan ketam-ketam pasir
bersama seguris tikaman teritip di batu karang
itu hanya laut berkirim salam
dibingkiskan buatmu segaris luka
erti sebuah pelayaran
kerana laut itu adalah kehidupan


Dik,
biar kubalut dulu luka itu
dengan kelembutan daun nyiur dan buah bidara
sebagai bekalan dan azimat peneguh jiwa
camar-camar di laut itu kau jadikan teman
pasti nanti tak lupa kubisikan bismillah di telingamu
bermulalah
dan jangan berpaling

- Teluk Bidara 2009



Picture by
http://2.bp.blogspot.com/_933Oz8nxjgs/Rh_CcTjnxwI/AAAAAAAAA8A/43_6c6ZdCho/s400/sunrise+at+tanjung+lesung.jpg

5 comments:

  1. puisimu bgs bgt. aku suka banget puisi

    ReplyDelete
  2. puisimu bgs bgt. aku suka banget puisi

    ReplyDelete
  3. Puisinya bgs bgt, aku jga suka puisi

    ReplyDelete
  4. bravo..ikhlas...aku suka saajk ni...

    ReplyDelete
  5. Suka. Sangat kena di hati saya. :)

    ReplyDelete